GPS, Gadget Pencari Sarden
Di suatu pagi beberapa hari yang lalu saya membaca status FB “Gadget Pencari Sarden akan ngetrend.” Siangnya saya baru mahfum kalau itu adalah semacam olok-olok ke satu cagub yang menyatakan ingin melengkapi nelayan dengan alat semacam GPS agar bisa lebih mudah mencari ikan.
Ada yang mengolok bahwa sebenarnya yang dimaksud GPS sebenarnya adalah Fish Finder, yang menggunakan sonar untuk mendeteksi ikan sedang berkumpul di mana. Tidak salah juga sih, namun ini masih mempersyaratkan perahu nelayan berlayar mencari kumpulan ikan tersebut.
Tapi yang dimaksud sang cagub itu percaya tidak percaya sebenarnya sudah dipikirkan sejak bertahun-tahun lalu, sewaktu Kementriannya Bu Susi masih bernama DKP. Saya tahu karena saya sempat terlibat sebentar dalam brainstorming-nya.
Banyak parameter yang bisa dipakai untuk meramalkan kumpulan ikan ada di mana, seperti arus laut, suhu, tingkat salinitas, dan lain sebagainya, yang sebenarnya bisa dideteksi dengan seperangkat alat sederhana. Terinspirasi dari crowdsourcing, yang diimpikan adalah tiap kapal nelayan dilengkapi dengan alat ini dan bisa mentransmisikan datanya ke data center, yang nanti bisa memetakan kondisi perairan Indonesia.
Selain itu juga dipikirkan semacam alat sederhana yang bisa melaporkan hasil tangkapan saat masih di laut, sehingga bisa didata misalnya ikan tuna dengan berat sekian ditangkap di koordinat sekian, dengan begitu bisa dibuat peta daerah dan jenis tangkapan laut.
Ini sudah dibahas sekitar 5-6 tahun yang lalu, dan yang jadi kendala utama ada dua: media komunikasi dan keengganan nelayan berbagi data tangkapan. Soal yang kedua mungkin bisa ditangani dengan membuat aturan perijinan penangkapan ikan, sementara kendala yang pertama itu jika menggunakan komunikasi satelit di tengah laut, akan sangat mahal.
Akan tetapi makin ke sini teknologi makin berkembang, yang ada di kepala saya untuk masalah komunikasi ini bisa dengan menumpang transmisi data yang sudah umum dipakai di laut, misalnya AIS, Automatic Identification System, ini sudah ada yang membuat standar untuk transmisi informasi cuaca, bukan tidak mungkin dimanfaatkan untuk transmisi data tangkapan ikan. Sinyal AIS yang ditumpangi ini terbatas radiusnya sekitar 25 KM ke horison, namun sudah ada satelit orbit rendah yang bisa menangkap sinyal AIS ini dan diteruskan ke stasiun bumi.
Atau dibuat semacam APRS di tengah laut, memanfaatkan komunikasi radio antar kapal, ini juga pernah sepintas dipikirkan untuk komunikasi data digital antar kapal AL, bukan tidak mungkin jika teknologinya cukup murah dipergunakan juga untuk kapal nelayan.
Intinya, ide dari sang Cagub itu cukup masuk akal kok.
View on Path
Leave a Reply