beberapa hari terakhir ini milis itb diramaikan oleh diskusi mengenai gerombolan harley, yang ditulis oleh sarie febriane, dan juga counter tentang gerombolan harley tersebut, yang ditulis oleh zulfikar alamsyah. ada juga mail simpatik dari putra ariyavira, pengguna motor gede yang isinya balik melakukan counter terhadap counter.
yang menarik adalah isi surat pembelaan diri oleh si fikar ini. sangat menarik karena banyak yang mengabaikan nalar, dan karena mail si fikar sampai masuk ke milis itb yang notabene isinya kalau bukan engineers ya ahli dalam bidang sains yang sangat mengandalkan kemampuan berpikir berdasarkan logika dan nalar.
overheat
fikar:
Perlu dipahami bahwa sebelum bertemu dengan mobil si Ibu Sarie, rombongan kami kira kira juga telah antri dalam kemacetan kira kira 15 menit lamanya. Hal ini membuat mesin motor H-D menjadi panas, dan tentunya dikhawatirkan mesin dapat terjadi Over heating. Belum lagi setiap engine H-D dilengkapi dengan engine cut off yang dalam kondisi panas tertentu akan mati guna menghindari Over-Heating, jadi solusi yang terbaik adalah secepat mungkin motor dapat terhindar dari kemacetan dan melaju di jalan yang tidak terhambat, agar angin dapat segera mendinginkan mesin.
herry susanto dari milis itb membenarkan hal ini:
Ya ya saya tahu HD gampang overheat, boros, vibrasi gede (karena V-engine dengan pengapian yg di jejerkan – big-bang kata honda), …
namun menurut putra ariyavira:
Panas (ini karena motor besar bermesin lebih besar, dan seharusnya untuk kecepatan konstan yang relatif kencang, bukan kemacetan ala Jakarta).
irwan:
Mungkin karena mereka merasa mirip Lorenzo Lamas, jadinya mereka mau beli dan make HD 🙂
Tapi, kalau alasannya hanya karena panas lalu boleh make jalan sembaarngan, kayaknya gak boleh gitu dong.
Tapi, kalau aku punya uang sih, pengen juga beli HD :))
dari hasil googling, saya tidak menemukan keluhan tentang harley davidson yang mengalami overheat. satu-satunya tulisan yang berkorelasi dengan overheat mesin twin engine adalah soal modifikasi karburator harley:
The proper idle speed for Big Twin engines is 900-1000 RPMs. EVO oiling systems need better than 700 RPM to work properly. Resist the temptation to lower the idle excessively. It may sound good, but improper oiling will contribute to engine overheating while idling in traffic and premature engine failures.
jadi, pada keadaan normal, overheat seharusnya tidak terjadi, kecuali kalau memang karburator mesinnya sudah dimodifikasi dari keadaan standar, atau selama menunggu kemacetan motor harley-nya digas sampai meraung-raung.
selap-selip
fikar:
Lagi pula manfaat lain mengendarai motor adalah ketika macet motor lebih diuntungkan karena dapat menyelip diantara kendaraan mobil yang tersendat.
putra ariyavira:
Tidak bisa selap-selip seperti motor kecil, karena ukuran yang relatif besar.
menurut saya pribadi, anggapan harley bisa menyelip di antara kendaraan mobil yang tersendat itu persis seperti pikiran para pengemudi bajaj yang menganggap bajajnya bisa selap-selip di antara antrian kemacetan mobil. karena memang tidak cukup kecil, pasti tidak bisa selap-selip. satu-satunya yang membedakan antara bajaj dan harley hanyalah dari segi power, harley bisa ngebut, bajaj tidak. kesamaannya, selain merasa bisa selap-selip di antara mobil, antara lain sangat bising, dan emisi gas buangnya tidak ramah terhadap lingkungan.
bambang setyadji:
Kalau diterapkan berbagai regulasi emisi dan kebisingan… dijamin tidak ada HD yang lolos uji (barangkali ini juga sebabnya AS tidak mau melanjutkan Protokol Kyoto).
sopan
fikar:
Road Captain dan para asistennya menurut saya (pada waktu itu posisi saya kira2 urutan motor ke 5 setelah Road Captain / Pimpinan rombongan) bekerja dengan sopan meminta jalan kepada para pengendara mobil agar diberikan jalan untuk lewat terlebih dahulu. Tidak terlihat sedikit pun tindak-tanduk kasar kepada pengendara mobil maupun yang lain, apalagi dengan menggebrak kap mobil orang lain.
pada tanggal 5 februari 2005, saya sekeluarga menghadiri acara mantenan teman kantor saya di daerah puncak, tepatnya di wisma choolibah. sekitar pukul 14.00 dalam perjalan pulang kembali menuju jakarta, masih di kawasan puncak kita terjebak kemacetan. yang menarik adalah, ada rombongan harley dengan suara gas meraung-raung dan suara sirene yang membahana meminta antrian mobil yang macet untuk minggir ke kiri, agar mereka bisa dengan leluasa lewat. ternyata ini yang dimaksud dengan BEKERJA DENGAN SOPAN MEMINTA JALAN KEPADA PARA PENGENDARA MOBIL.
herry susanto:
Lho, di indonesia kan ada 3 golongan yang boleh melanggar lampu merah dan ngebut di jalanan tanpa ditangkap polisi :
- Rombongan Pejabat
- Rombongan Tentara
- Rombongan Harley
fau swasono:
Karena romb. no.3 = no.1 + no.2
irwan:
Kalau di Bandung, saya sih sering ngelihat mereka pakai jalur jalan yang berlawanan arah jika jalan yang searah sedang macet
Walaupun mereka menggunakan jalur jalan yang berlawanan arah, tapi Pak Polisi yang terhormat, pengayom masyarakat, gagah berani, ramah tamah dan rajin menanbung, malah memberikan mereka jalan.
Saya sih angkot-ers, jadi ya, bermacet-macetan ria 😛
satu meter
fikar:
Memohon kerelaan hati ibu Sarie untuk sedikit menepikan mobilnya pada waktu itu, malahan kebalikan yang kami hadapi–Sebenarnya kalau saja Ibu tersebut bisa berkata Jujur masih tersisa space hampir 1 meter mobil berbatas dengan Trotoar, dan tidak seperti yang ditulis* “Para pengendara itu dengan tangannya menyuruh saya lebih minggir ke kiri, padahal sisijalan sebelah kiri juga sudah mentok”*
sepanjang pengamatan saya, dalam keadaan kemacetan, adalah normal mobil menjaga jarak sekitar 1 meter dari trotoar, karena saya tahu persis motor-motor yang lebih kecil ketimbang harley (motor bebek, vespa, honda gl-pro dan lain-lain) masih bisa melewati sisi kiri saat kemacetan terjadi. ini sekaligus mematahkan argumen bahwa motor harley bisa selap-selip di antara mobil saat terjadi kemacetan lalu-lintas, karena kalau memang argumen tersebut benar, kenapa mereka tidak ikutan melalui jalur kecil yang dilalui oleh motor-motor biasa tersebut? tanya kenapa?
kaca spion
fikar:
Luapan emosi itulah yang mungkin di terima oleh ibu yang terhormat dari rekan-rekan bikers dengan sengaja menderu knalpot motor dan memang saya akui ada rekan kami yang membengkokkan spion Ibu ini namun tidak seperti yang ditulis di email yang sebelumnya bahwa *”salah seorang pengendaralain yang bertubuh gempal banget melayangkantangannya yang kekar ke arah saya yang masihmelongokkan kepala ke luar jendela sambil mendamprat. Saya pikir dia belagak ngancam mau nempeleng, rupanya spion mobil sayadigamparnya dengan kuat sampai terlipat ke arah Dalam”. . “Belagak ngancam mau nempeleng” dan ditambah lagi Spion digamparnya dengan kuat”* menurut saya sebagai orang yang berada dalam rombongan itu tidak benar adanya, yang ada adalah rekan kami tersebut menghampiri mobil ibu ini dan langsung menutup spion dan menurut saya hal ini dilakukan sebenarnya ia ingin mengatakan kepada ibu Sarie ini dengan bahasa tidak langsung -dan ini hanya interpretasi saya saja *” Hey Lady don’t do that coz you put us in danger”*(Baca: Ketika mobil diarahkan ke pengendara H-D)
tampaknya ini masih berhubungan dengan tata krama kesopanan yang disebut fikar di atas, yaitu melipat kaca spion itu adalah standar etika kesopanan mereka. mirip seperti tukang parkir yang melipat kaca spion mobil-mobil yang parkir paralel supaya tidak tersenggol oleh kendaraan yang (memaksa) lewat.
motornya berat!
fikar:
Perlu disadari bahwa motor H-D dengan type touring minimun beratnya kurang lebih sekitar 370Kg, dengan bobot seperti ini tentunya pengeraman juga jadi alasan utama mengapa Road Captain berusaha membuka/meminta jalan dari pengendara yang lain guna menjaga jangan sampai ada yang celaka pada Group selama berkendara, terutama jangan sampai mencederai orang atau kendaraan yang lain.
putra ariyavira:
1. Berat (makanya sesuaikan ukuran motor dengan ukuran badan dan tenaga)
…
4. Harus menempatkan dirinya sebagai ‘pengendara motor’, bukan ‘pengendara moge’.Nomor 4 inilah yang biasanya dilupakan pengendara motor tipe/merk tertentu. Menurut saya yang namanya motor itu apakah itu scooter, motor bebek, motor sport, atau pun motor cruiser, semuanya seharusnya kedudukannya sama. Terutama di jalan raya.Mempunyai ukuran yang besar dan beramai-ramai bukan berarti bisa menguasai jalan, dan tentunya bukan berarti dapat memerintah orang lain untuk minggir.. Kalau menggunakan pengawal convoy (polisi) ya oke aja deh kalau harus minggir, tapi tentunya tidak pakai gebrak sana -pukul sini kan? Bkankah itu tindakan anarkis dan menjelekkan nama moge itu sendiri?
Selama saya menggunakan moge, saya berusaha untuk menempatkan diri saya untuk hanya menjadi ‘pengendara motor’, dan jujur aja itu tidak susah kalau Anda memang niat ingin naik motor karena hobi dan bukan karena ingin ‘gaya’.
Dan tentunya saya menerima kekurangan-kekurangan yang ada seperti panas, macet, dan berat (kalau memang nggak kuat dan capek, seharusnya jangan pakai motor itu kan? ya nggak? seharusnya ganti motornya yang sesuai dan jangan malah nyuruh minggir orang lain seenaknya).
Itu kenyataan yang ada di pemakaian moge sehari-hari, dan itu saya terima karena saya ingin dan enjoy naik motor, dan bukan karena ingin gaya naik moge.
Menurut saya para pengguna moge harusnya lebih mawas diri dan lebih peduli atas kelakuan mereka.
The Bigger The Power, The Bigger The Responsibility adalah yang harusnya dilakukan para pengendara moge. Ukuran besar dan kapasitas mesin yang besar justru membuat penggunanya harus lebih bertanggung jawab atas caranya membawa motor itu. Bukan berarti lebih bebas dan sewenang-wenang.
wikan:
lha iya, udah tahu motornya gede, menuh2-in jalan kalau rombongannya banyak
mesinnya punya masalah overheating segala macem
udah tahu jakarta macet masih aja maksain jalan2 di jakarta pake HD
kalau emang mau touring ke daerah bisa kan masukin aja HD-nya ke truk
tar kalau udah keluar dari jakarta dan gak macet lagi
tinggal dikeluarkan lagi dan bisa berkendara dengan nyaman
kalau niatnya gitu, tar Ananda Mikola pake mobil balapnya di jalan sudirman
terus ngebut dan alasannya, “wah kendaraan saya gak bisa dipake pelan2 sih mbak, soalnya kalau dipake pelan bisa meledak, jadi saya ngebut …”
terus kalau dikritik tar bilangnya “semoga pada akhirnya kita akan berkendara bersama”hobi sih hobi, cuman kalau merugikan orang lain itu udah nggak lucu namanya
sama seperti hobi miara harimau terus dibawa jalan2 sambil nyakarin orang
tidak berpendidikan
fikar:
Kata kata diatas sepertinya ditulis oleh orang yang sangat tidak berpendidikan sama sekali, dan mohon maaf kabar yang saya dapat dari beberapa milist, saya sangat terkejut bahwa ternyata Ibu Sarie Vebriani “Katanya” adalah salah seorang wartawan di Surat Kabar yang sangat terkemuka di Indonesia. Apakah benar adanya, terus terang saya sendiri penasaran. Jika memang benar sangat disayangkan Surat kabar yang sangat terkemuka ini punya kualitas Wartawan kelas-Mohon maaf seribu maaf-“SANGAT BERLEBIHAN”.
sure buddy, SHOOT THE MESSENGER.
provokatif
fikar:
Terlebih lagi menurut saya semua sudah menyimpang jauh, dari highlights saya diatas isyu yang diangkat adalah kesenjangan sosial. Tulisan ini sifatnya sangat provokatif, dan hal ini sangat berbahaya.
fau swasono:
Satu lagi..
imel ibu Sarie itu hanyalah puncak gunung es dari akumulasi kejengkelan banyak pemakai jalan lainnya selama ini atas priviledge pemakai HD, padahal semua orang punya hak yang sama dalam hukum (ada gak sih di UU, Keppres, PP, Perda bahwa ada keistimewaan pemakai HD dibanding pemakai jalan lainnya?). Inget juga kasus pake jalur busway, dsb?Makanya “sambutan” atas imel tsb jadi marak, berbagai kisah menjengkelkan lainnya pun dikeluarkan. Mestinya para bikers HD ini sadar dong. Apakah kalian selama ini mikir kalau orang2 lain melongo terkagum2 melihat kalian menjadi raja jalanan?
Wake up man! Lihat bagaimana orang lain melihat anda.Mari kita bangun masyarakat yang saling menghargai,
salam,
fau
sumbangan kami
fikar:
Banyak hal hal yang positif yang mungkin saya bisa bagi kepada anda yang membaca email ini. Masih segar dalam ingatan saya ketika 3 hari setelah Iedul Fitri lalu saya berkesempatan diajak untuk touring bersama rekan kantor ke Surabaya untuk mengikuti “Pahlawan Tour” sesampainya disana kami mengikuti beberapa prosesi hari pahlawan dengan Hikmat dengan acara Upacara dan malam renungan di Tugu Pahlawan 10 November Surabaya. Semuanya itu dilakukan karena para bikers punya semangat kebangsaan yang tinggi dan bangga menjadi bangsa Indonesia.Di kota pahlawan itu pulalah mereka mengadakan acara penggalangan dana bagi mereka yang menjadi mendiang maupun keluarga yang ditinggalkan dan korban cacat perang dari para pahlawan 10 November dengan jalan melelang barang milik pribadi mereka pada saat itu juga.. Juga masih ada dalam ingatan saya bagaimana rekan rekan Bikers H-D berusaha mengumpulkan dana, baju bekas dll bagi mereka Fakir miskin ketika Lebaran hampir tiba. Dan masih banyak kegiatan positif lainnya yang sebenarnya tidak pernah diungkap.
dari situs air putih:
Barusan ada informasi dari kawan yang datang dari lokasi kalau pagi tadi (8 Januari 2006) polisi tidak membolehkan siapa saja naik ke atas. Akibatnya adalah kelompok RAUNG 4X4 jadi “mutung” dan balik ke Jember. Kelompok RAUNG 4X4 adalah kelompok bermobil gardan ganda yang membuka daerah-daerah terisolir karena bencana dari hari-hari pertama operasi sampai sekarang, sehingga bantuan dan pengungsian dapat dilakukan. Hari ini juga ada konvoi Harley Davidson ke atas. Sore hari penjagaan dilepas oleh polisi, jadilah “pasar malam bencana” oleh para “wisatawan bencana” dan tentu saja kemacetan oleh mobil-mobil “wisatawan bencana”
holid azhari:
Agak kocak juga ya pengendara HD “bikers” katanya ngumpulin pakaian bekas buat anak yatim?
kenapa ngga jualin HD nya saja dan ganti supra. akan ada ribuan anak yatim yang bisa ditolong, benar benar mengagumkan kita naik mercedes tapi nyumbang gopek?
umpan balik
fikar:
Bagi anda yang ingin mengirimkan email untuk bantahan atau masukan apapun silahkan mengirimkan email ke [email protected]
kurniantoro whs:
melihat replyan disini (red: milis itb) kayaknya bantahan mas Zulfikar ini jadi bumerang buat dirinya dan komunitas H-Dnya…
saya sendiri akan mengirimkan artikel ini ke saudara fikar, agar beliau bisa ikut menanggapi kompilasi tanggapan atas mail yang beliau tulis.
[UPDATE]
ajakan gerakan tutup hidung dari sarie febriane.
Leave a Reply