hari ini saya lihat cukup banyak yang ikut gerakan bebas rokok. dari planet terasi, ini beberapa di antaranya:
- 100% Rauch-Frei
- 100% Bebas Asap Rokok (priyadi)
- 100% Smoke-free (nanda)
- 100% Bebas Asap Rokok (indra pramana)
- Seruan Anti Rokok
- 100% Smoke-free (nurul)
- Surga Rokok Bernama Indonesia itu
- 100% Bebas Asap Rokok (firdaus)
saya sendiri tidak ikut, lebih karena memang tidak mau sekedar ikut-ikutan. saya bukan perokok, dan tidak suka terkena asap rokok, dan juga pernah menulis sentimen tentang rokok. walaupun begitu, saya mengaku dulu sewaktu kuliah pernah merokok, namun berhenti sejak tingkat 2 karena memang tidak kuat merokok, tiap kali mencoba merokok saya langsung merasa mual dan kembung.
saya juga setuju bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan. saya tadinya juga setuju bahwa merokok pasif (disebut juga sebagai SHS, second hand smoke atau ETS, enviromental tobacco smoke) juga berbahaya, sampai doni di milis id-gmail menunjukkan artikel name three yang ditulis oleh dave hitt. doni juga menuliskan hal yang sama sebagai komentar di artikel priyadi.
inti dari tulisan dave hitt adalah, bersikaplah kritis ketika anda sedang dicekoki angka statistik dan kesimpulan dari hasil penelitian, karena bisa jadi ada fakta-fakta yang secara sengaja tidak diungkapkan atau sedikit dimodifikasi untuk mendukung tujuan semula. dan topik yang dibahas oleh dave hitt adalah, penyebutan angka bahwa sekitar 63 ribu orang setiap tahunnya meninggal akibat SHS. kalau memang sedemikian banyak yang meninggal… tentunya sangat mudah menyebutkan 3 nama orang yang meninggal akibat SHS. dan ternyata sampai saat ini tidak ada yang bisa menyebutkan 3 nama orang yang meninggal akibat SHS.
coba kita cuplik tulisan priyadi:
Penelitian ilmiah tentang bahaya perokok pasif telah dilakukan selama lebih dari 20 tahun. Tidak ada keraguan bahwa merokok secara pasif sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, menyebabkan kanker dan banyak penyakit pernafasan serta kardiovaskuler pada anak-anak serta orang dewasa, dan tidak jarang mempercepat kematian.
di dunia wikipedia, tulisan di atas tergolong weasel words.
paragraf berikutnya:
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah berkesimpulan bahwa asap rokok, sekecil apapun jumlahnya, tetaplah berbahaya. Rekomendasi WHO tentang hal ini mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk melindungi masyarakat dari bahaya asap rokok adalah dengan memberlakukan peraturan 100% bebas asap rokok bagi tempat-tempat umum.
di sini priyadi menyebutkan bahwa WHO yang menyimpulkan bahwa asap rokok itu berbahaya. dave hitt rupanya juga pernah membahas penelitian pertama WHO tentang ETS, dan ini fakta yang menurut saya menarik:
- WHO mengadakan penelitian tentang ETS dan kanker paru-paru di eropa.
- ini adalah penelitian yang menggunakan sampling berukuran besar, yaitu 650 penderita kanker paru-paru dan 1542 orang untuk kontrol.
- tujuan penelitian adalah untuk mencari angka resiko yang lebih presisi, lalu menemukan apa saja perbedaan dari berbagai sumber ETS, dan pengaruh ETS pada kanker paru-paru.
- penelitian dilakukan di 12 pusat penelitian di 7 negara eropa selama 7 tahun.
- hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik tidak ditemukan resiko yang signifikan terhadap non-perokok yang hidup bersama atau bekerja bersama perokok.
- anak-anak yang orangtuanya perokok justru punya kemungkinan lebih kecil 22% terkena kanker paru-paru.
ad hominem
priyadi menjawab tantangan name three ini, antara lain dengan menyatakan bahwa dirinya dan ibu mertuanya adalah jawabannya, yang buat saya tidak valid karena priyadi belum meninggal. lalu beliau juga akhirnya menulis artikel khusus untuk membahas tantangan name three ini. beberapa kutipan yang menarik buat saya:
Yang membuat tantangan tersebut pertama kali adalah Dave Hitt, seorang ‘pejuang hak-hak perokok’.
waduh, priyadi sekarang main ad hominem. 🙂
ini adalah tulisan dave hitt:
Jim, I don’t smoke cigarettes. I used to, but quit, because I wasn’t comfortable with the risk. I do smoke cigars, but not a lot.
kalau kita luangkan waktu sejenak untuk membaca tulisan dave hitt, kita bisa menyimpulkan bahwa dia bukan ‘pejuang hak-hak perokok’, melainkan seseorang yang melihat keanehan pengungkapan hasil penelitian yang diusung oleh para pendukung anti rokok, terutama yang berhubungan dengan SHS. dia sendiri sangat menyadari resiko perokok aktif.
pernyataan yang menyesatkan
kembali ke tulisan priyadi:
Kesimpulannya: “Karena tidak ada yang bisa menyebutkan secara pasti siapa yang meninggal akibat merokok pasif, maka merokok pasif tidaklah berbahaya.”
tulisan priyadi di atas sangat misleading alias menyesatkan. dave hitt hanya menyarankan untuk melontarkan pertanyaan generik name three yang bisa berlaku ke sembarang hasil statistik yang mencurigakan, bukan hanya khusus membahas SHS. dalam tulisan statistics 102, dave menuliskan bahwa dalam statistik atau epidemiologi, correlation does not prove causation. sebagai contoh, semua pecandu narkoba di masa kecilnya ternyata minum susu, relasi ini tidak bisa dipakai untuk membuktikan bahwa ternyata anak kecil yang minum susu setelah besar nanti akan menjadi pecandu narkoba.
mencampur-adukkan dua hal yang berbeda
Merokok pasif adalah penyebab sekunder
Merokok pasif mempertinggi resiko terkena berbagai macam penyakit. Berikut adalah peringatan yang telah kita ketahui bersama:
Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.
Artinya, merokok adalah penyebab sekunder yang mempertinggi resiko terkena penyakit tertentu. Jika seseorang meninggal dunia, dalam sertifikat kematiannya tidak akan pernah disebut “meninggal akibat merokok pasif”, melainkan “meninggal akibat kanker paru-paru” atau “meninggal akibat serangan jantung”.
pada tulisan priyadi di atas, tidak ada batasan yang jelas apakah beliau sedang membahas perokok aktif atau pasif. pada bagian merokok dapat menyebabkan kanker… itu jelas sedang membahas resiko perokok aktif, namun beliau menggunakan bahasan resiko yang sama untuk perokok pasif di tulisan selanjutnya.
tulisan yang kontradiktif
Perhatikan kata-kata ‘estimates’, ‘estimated’, ‘approximately’, ‘up to’. Perhatikan pula angka-angka tersebut tidak akurat sampai angka penting terakhir. Ini disebabkan karena angka-angka tersebut adalah hasil perhitungan statistik, dan bukan diambil dari jumlah orang yang benar-benar meninggal akibat merokok pasif.
buat yang ingin tahu apa sih perhitungan statistik / epidemiologi yang dipakai untuk menghitung angka resiko, dave hitt membuat dua tulisan yang sangat bagus untuk dibaca, statistics 101 dan statistics 102. dalam penjelasan mengenai epidemiologi, untuk bisa menghasilkan perhitungan statistik yang relatif akurat, memang harus disurvei berbagai parameter, seperti apakah benar tidak merokok, apakah benar dia sakit paru-paru dan bukan perokok, dan selanjutnya. intinya, membuat penelitian seperti ini tidak murah, tidak mudah, dan tidak cepat.
Mengapa seperti itu? Karena sulit untuk menentukan penyebab sekunder dari sebuah kematian, jika ada. Jika seseorang meninggal akibat serangan jantung, akan sulit dan sangat tidak praktis untuk menentukan apakah serangan jantung tersebut benar-benar diakibatkan merokok pasif, obesitas, faktor genetis atau hanyalah nasib yang tidak beruntung.
kalau alasannya demi kepraktisan, ya masuk akal kalau hasil penelitian tentang SHS juga ngawur, karena demi kepraktisan. 🙂
biological plausibility
Secara sederhana, kesimpulan tersebut berasal dari hipotesis bahwa asap rokok mengandung berbagai macam racun. Dari hipotesis tersebut dibuat penelitian untuk mempelajari perbedaan jumlah kematian pada kelompok perokok pasif dan jumlah kematian pada kelompok bukan perokok pasif. Sebagian besar penelitian mengatakan jumlah kematian pada perokok pasif lebih besar daripada kelompok bukan perokok pasif. Dari sini bisa dihitung estimasi jumlah korban meninggal akibat merokok pasif.
mari kita lihat pernyataan di atas dari cara pandang yang berbeda. dalam tulisan statistics 102, dave menulis tentang biological plausibility:
Does the connection make sense? The idea of smokers being more susceptible to diseases of the mouth, throat and lungs sounds plausible, but how would smoking cause colon cancer? What biological mechanism could make this happen?
Pay close attention to studies that compare the effects on “passive smokers” to the effects of primary smokers. Quite often you’ll find that illnesses are just as common (or almost as common) in the non-smokers as in the smokers. Considering that even in the smokiest environment non-smokers only inhale a fraction of a cigarette a day, such claims are not biologically plausible. Or to put it in everyday language, they just don’t make any sense.
analogi dari analogi?
Dave Hitt membuat pernyataan “Karena tidak ada yang bisa menyebutkan secara pasti siapa yang meninggal akibat merokok pasif, maka merokok pasif tidaklah berbahaya.” Dengan analogi yang sama, karena tidak ada yang bisa menyebutkan siapa yang meninggal akibat terkena meteorit, maka tidak mungkin manusia meninggal akibat terkena meteorit. Kenyataannya meteorit bisa mencapai permukaan bumi, dan dengan demikian bukan tidak mungkin mendarat tepat di seseorang.
kalimat yang saya cetak tebal sudah dibahas di atas, dan itu sudah terbukti bukan pernyataan dari dave hitt.
tapi analogi tentang meteor cukup menarik, karena kalau pakai semangat yang sama dengan gerakan anti rokok ini, kita bisa menggelar kampanye anti meteorit. ini bisa ditindak-lanjuti dengan meminta amerika meneruskan program perang bintangnya, sehingga kita bisa menembaki segala benda angkasa yang dicurigai bisa jatuh ke bumi.
penutup
saya bukannya anti pada gerakan bebas asap rokok ini, saya juga tidak suka menghirup asap rokok kok. yang saya ungkapkan adalah alasan-alasan yang secara ilmiah tidak bisa dipertanggung-jawabkan, yang sayangnya tulisan dave hitt yang banyak menjelaskan alasan ilmiahnya malah dikatakan absurd oleh priyadi. 😐
bukan berarti dave hitt sepenuhnya benar juga. dia sempat agak menjurus ke ad hominem ketika menuliskan kenyataan bahwa istilah perokok pasif pertama kali dipopulerkan oleh anak buah hitler di waktu nazi jerman berjaya, dan membandingkan para pendukung anti-rokok itu dengan nazi. namun bukan berarti semua tulisan dave hitt menjadi salah akibat pembandingan ini, sisi penjelasan ilmiahnya sangat masuk akal dan dilengkapi dengan panduan untuk mengerti ilmu statistik.
saran saya sih, check your facts. saya juga mau hidup bebas asap rokok, tapi dengan alasan yang benar dan bukan mengada-ada.
Leave a Reply