dalam sebuah berita di media indonesia, tertulis:
Ia mengaku sempat ditanya banyak kalangan, ketika menyeruakkan ungkapan kiasan Superbagong. “Ya saya sengaja gunakan ungkapan itu untuk mendiskripsikan bahwa dalam suatu pentas pewayangan, tidak pernah ada tokoh kembar. Sehingga bilamana realitanya sudah ada Semar, maka dalam Punokawan yang mirip adalah Bagong. Lalu dimunculkanlah dan kemudian disebut sebagai Semar,” tandasnya.
sekilas, sepertinya roy suryo menyatakan tidak ada tokoh kembar dalam pentas pewayangan, sehingga muncul iseng-iseng gambar parodi superbagong seperti di atas. namun, sepertinya ada kesalahan komunikasi — entah mungkin wartawannya salah dengar — karena mungkin yang dimaksud, dalam sebuah pentas pewayangan, tidak pernah ada lebih dari satu pribadi yang ditokohkan, seperti yang dijelaskan oleh PYAP (bukan Pengurus Yayasan Air Putih ya, melainkan P.Y. Adi Prasaja):
kata-kata ‘pentas pewayangan’ itu penting. jadi bukan soal cerita dari A-Z, tapi dalam satu pementasan yang riil (yang biasanya berupa potongan-potongan/episode cerita, yang masing-masing punya cerita dan judul sendiri, as long as sesuai ‘pakem’, kecuali dalang hadi sugito yang suka mbeling melanggar pakem ha..ha..). jadi, kalau saya tidak salah tafsir: “dalam satu pentas pewayangan, tidak pernah ada lebih dari satu pribadi yang ditokohkan” (tidak pernah ada 2 atau lebih dari satu tokoh).

Leave a Reply to ojat Cancel reply