dahulu kala, sekitar 6 tahun yang lalu, saya baru selesai menyaksikan sebuah pentas seni di komunitas seni utan kayu, dan sebelum pulang saya melihat-lihat sebuah toko buku di sana. saya tertarik pada sebuah cergam (ceritera bergambar) yang berjudul karung mutiara al-ghazali, dan memutuskan untuk membelinya. isinya adalah versi komik dari hikmah seorang imam besar, ahli fiqih, teolog, filsuf dan sekaligus sufi terkenal: Al-Ghazali (maaf saya meminjam kalimat dari kata pengantar yang ditulis oleh K.H. A. Mustofa Bisri).
salah satu hikmah yang paling berkesan buat saya adalah ketika rombongan kafilah yang diikuti Al-Ghazali mengalami perampokan, dan Al-Ghazali berusaha melindungi sebuah buku yang berisi ilmu pengetahuan yang penting. berikut apa yang saya ingat dari komik tersebut, mohon maaf kalau ada yang sedikit keliru:
“mengapa engkau begitu ingin melindungi buku itu?” tanya sang pemimpin perampok.
“karena buku ini adalah buku satu-satunya yang mencatat sebuah ilmu yang sangat penting…” jawab Al-Ghazali.
“kalau memang begitu penting, mengapa tidak kau ajari orang lain tentang ilmu tersebut? bukankah kalau buku ini terbakar habis, maka hilanglah ilmu yang kau anggap penting itu?” balas sang kepala perampok.
dari kisah di atas, Al-Ghazali mempelajari dua hal yang penting. pertama, ilmu itu tidak akan pernah berkurang kalau kita mengajarkannya ke orang lain, justru akan makin bertambah dan makin kekal. kedua, sebuah pemikiran yang bagus akan tetap bagus, walaupun itu dikatakan oleh seorang kepala perampok.
hari ini priyadi mengomentari tulisan saya yang berjudul walking the path dengan tulisan dia sendiri yang dia beri judul Ad Hominem tu Quoque. tulisan yang menarik perhatian saya adalah ini:
Beliau menyimpulkan bahwa sebagian besar komentator masih menggunakan Windows, namun mayoritas komentar menyalahkan pemerintah atau Microsoft. Tetapi sebenarnya kenyataan tersebut tidak dapat menyimpulkan benar atau salahnya argumen yang diusung komentator yang ‘anti MoU’ dengan menggunakan Windows. Paling jauh hanya akan menyimpulkan bahwa yang berkomentar seperti itu adalah hipokrit.
dan juga priyadi sebelumnya sempat menuliskan:
Pola yang sering saya lihat adalah sebagai berikut:
- Komentar A mendukung perangkat lunak bebas dengan opini tertentu.
- Komentar A ditulis dengan menggunakan sistem operasi Windows dan/atau perambah Internet Explorer.
- Komentar B menuduh A munafik dan dengan demikian menyimpulkan komentar A tidak berbobot.
dalam tulisan walking the path, andaikan priyadi jeli membacanya, maka bisa dilihat bahwa saya tidak pernah menyimpulkan kalau komentar-komentar di blog priyadi itu benar atau salah. lalu saya juga tidak pernah menyatakan bahwa komentar di sana tidak berbobot, tapi yang saya tuliskan dari balasan komentar priyadi di tulisan walking the path tersebut adalah andaikata mereka yang menyarankan menggunakan “opensource” itu juga dalam keseharian menggunakan perangkat lunak bebas juga, maka komentar akan akan lebih berbobot.
saya sendiri sedikit banyak mewarisi gaya percakapan dan tulisan dari ayah saya, yaitu straight to the point untuk situasi yang serius, dan menyentil secara halus untuk hal yang ringan-ringan. dan terus terang yang bisa memahami bahwa saya sedang menyentil secara halus juga butuh indera pemahaman yang lumayan halus juga, atau tidak bisa memahaminya sama sekali dan akhirnya situasinya menjadi seperti menjelaskan kenapa sebuah lawakan itu lucu, yang alhasil membuat lawakan tersebut tidak lucu lagi. di sini rupanya sentilan halus dari saya gagal dipahami oleh priyadi, sehingga membuat saya menjelaskan bahwa apa yang sama maksud adalah idiom practice what you preach.
kembali ke Al-Ghazali, yang menemukan bahwa sebuah kebijaksanaan pun bisa ditemukan dari seorang kepala perampok. kebijaksanaan dari kepala perampok itu adalah mempertanyakan kenapa sebuah ilmu harus dirahasiakan, sehingga ketika satu-satunya buku yang mencatat buku tersebut musnah, maka musnah pulalah ilmu tersebut dari muka bumi. tapi apa kira-kira yang akan terjadi kalau kebijaksanaan dari kepala perampok itu adalah “wahai manusia di bumi, janganlah kalian merampok orang lain?”
apakah kebijaksanaan dari perampok tersebut salah? tentu saja tidak. tapi mengapa orang lain harus menelan mentah-mentah perkataan dari orang yang sama sekali tidak melaksanakan apa yang dia katakan sendiri?
banyak contoh yang lain, misalnya menasehati orang lain untuk membuat balasan mail secara bottom posting, namun nasehatnya ditulis secara top posting. atau menasehati orang lain untuk save bandwidth, dengan tetap membiarkan quote lama yang lengkap dalam mailnya.
yang menjadikan hal ini semi ironis, adalah ketika priyadi menuliskan secara gamblang mengapa orang masih banyak menggunakan windows:
Pada kenyataannya, sefanatis apapun kita terhadap perangkat lunak bebas, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa sebagian besar komputer di dunia terinstal Windows. Bisa jadi komputer kantor masih menggunakan Windows. Bisa jadi kita harus mengakses Internet dari komputer publik yang hampir pasti menggunakan Windows. Bisa jadi kita memang menggunakan Windows walaupun aplikasi di atasnya adalah perangkat lunak bebas. Bisa jadi kebutuhan saat ini mengharuskan menggunakan Windows.
mengapa semi ironis? karena itu malah menguatkan pendapat saya bahwa kalau rakyatnya masih suka pakai windows, kenapa pemerintahnya tidak boleh, yang justru komentar pertama priyadi di sini berusaha menyanggah pendapat saya ini. 🙂
pak budi rahardjo pun sepertinya paham tentang apa itu practice what you preach:
Memang kita dapat membedakan “isi pesan” (message) dan “pembawa pesan” (media). Akan tetapi akan aneh jika kelakukan pembawa pesan berbeda dengan isi pesan yang dia bawakan. (Kalau dalam Islam, validitas dari sebuah hadist tidak sekedar berdasarkan isinya saja akan tetapi bergantung kepada siapa yang meriwayatkan hadist tersebut.)
Contohnya, misalnya ada seorang perokok berat yang berkhotbah di beberapa tempat untuk tidak merokok, bahkan dia marah-marah melihat orang yang merokok. Bagaimana? Apakah Anda akan percaya dengan dia.
Atau contoh lain adalah orang yang mabok kemudian memberikan khotbah supaya jangan mabok (sambil mabok). Saya yakin kita hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Lucu sekali kan?
Sama seperti melihat orang yang belum pernah pakai Linux kemudian berkoar-koar untuk pakai open source. Sebal juga melihatnya. Lain halnya kalau melihat orang yang setiap hari pakai open source kemudian bicara tentang perlu atau tidaknya pakai open source. Yang ini tentu saja pantas untuk didengarkan.
Kata orang sono, practice what you preach…
saya akhiri sampai di sini tulisan saya mengenai getting the point, yang tampaknya priyadi missing the point. bukan berarti priyadi itu salah, toh semua orang berhak mengemukakan opini atas opini orang lain, dan memang kebetulan dia menuliskannya dalam kategori opini.
Leave a Reply to Sirait Cancel reply