hari ini sebenarnya saya berharap ada kelanjutan soal heboh indonesia raya ini di detik, namun ternyata sampai saat ini cuma ada satu catatan dari airputih. tampaknya pihak-pihak yang terlibat sedang cooling down, terutama yang kemarin nyaris melakukan self-inflicted character assasination alias pembunuhan karakter terhadap diri sendiri.
3011 VIEWS
hal pertama yang ingin saya ungkapkan, sekaligus menjawab pertanyaan erander, adalah betapa kehebohan ini membuat page visit ke blog saya melonjak sangat tajam:

VANDALISME DI ENTRI INDONESIA RAYA
sejak saya menyarankan untuk melihat entri indonesia raya di wikipedia indonesia, saya sudah mengkhawatirkan akan terjadi vandalisme terhadap entri tersebut, membuat seolah-olah pihak yang tadinya salah menjadi benar. dan ternyata kekhawatiran saya menjadi kenyataan, ada yang menghapus dua stanza terakhir dari lagu indonesia raya. tindakan vandalisme dengan mengacak-acak lagu kebangsaan ini benar-benar sangat tidak patriotis, dan sangat berlawanan dengan pernyataan “ingin ikut memperkaya sejarah indonesia.” ingin memperkaya atau ingin memelintir? saya pribadi menganggap yang melakukan hal ini bisa dkategorikan sebagai pengkhianat negara.
APA YANG SEBENARNYA TERJADI?
di sini saya akan berusaha menuliskan apa sebenarnya yang terjadi berdasarkan pengamatan saya. semua ini tampaknya diawali dari tindakan roy suryo menyalin hasil pengumpulan salinan-salinan digital yang berhubungan dengan sejarah indonesia dari arsip tim airputih melalui sobat kentalnya, heru nugroho, yang sampai kemarin masih disangka oleh roy suryo sebagai ketua tim airputih.
dari salinan yang didapat, dia menemukan rekaman film propaganda jepang yang isinya antara lain dinyanyikannya lagu indonesia raya versi 3 stanza dan dengan tempo con bravura, berani/bersemangat, berbeda dengan lagu kebangsaan yang sesuai dengan PP no 44/1958 dengan tempo maestoso con bravura.
berdasarkan wawancara dengan ndoro kakung, ternyata roy suryo memang tidak tahu kalau sebenarnya lagu indonesia raya itu benar-benar terdiri dari 3 stanza:
Dia mengaku baru waktu itu tahu bahwa versi asli Indonesia Raya terdiri dari 3 stanza, dan bukan cuma satu seperti yang selama ini dinyanyikan dalam pelbagai kesempatan resmi.
karena memang roy suryo tidak tahu mengenai hal ini, beliau menganggap ini merupakan sebuah penemuan besar (tentunya bagi beliau sendiri), dan lalu bersepakat dengan pihak airputih bahwa mereka akan mengumumkan hal ini di hari senin tanggal 6 agustus 2007.
tapi rupanya roy suryo melanggar kesepakatan tersebut, dan mendahului membuat sendiri ad hoc konferensi pers di jogja, mengumumkan penemuannya tersebut. dalam konferensi pers tersebut beliau tampaknya “menuntun” para wartawan sehingga terjadi kesimpulan bahwa beliau menemukan pita seluloid asli dari rekaman tersebut di leiden (entah museum, perpustakaan atau universitas) belanda. tampaknya kata “pita seluloid” ini berasal dari hasil pengamatan rekaman video tersebut yang memang terlihat vintage, ditambah adanya tulisan menuju kemerdekaan di bulan 9 tahun 2064 (tahun jepang, yang berarti tahun julian 1944), namun saya masih belum berhasil menemukan dari mana kata “leiden” berasal.
setelah konferensi pers di atas, dimulailah segala kontroversi. hal pertama yang dipertanyakan adalah mengapa roy suryo baru tahu kalau ternyata lagu indonesia raya itu memang terdiri dari tiga stanza. hal kedua yang menguatkan kesan bahwa versi 3 stanza ini merupakan “penemuan baru” adalah pada saat upacara atau acara kenegaraan, lagu kebangsaan yang dinyanyikan memang cuma satu stanza. ini bisa dijelaskan bahwa memang menyanyikan cuma satu stanza sudah sesuai dengan PP no 44/1958 bab I pasal 2 ayat 2, dan di dalam peraturan pemerintah itu pun versi 3 stanza juga dikenali. masalahnya adalah PP no 44/1958 ini memang jarang diketahui oleh orang banyak.
hal ketiga yang makin menimbulkan pertanyaan adalah orang-orang pemerintahan sendiri (dan juga beberapa wakil rakyat) ternyata sama awamnya, tidak tahu bahwa memang seharusnya lagu indonesia raya itu terdiri dari tiga stanza. ini makin memperburuk keadaan karena masyarakat awam tidak tahu mana yang bisa dipercaya, pihak yang tidak tahu soal 3 stanza (dan diperkuat oleh beberapa orang pemerintahan dan wakil rakyat) atau pihak yang tahu tentang 3 stanza.
ketika orang-orang yang mengetahui bahwa lagu indonesia raya memang terdiri dari 3 stanza mulai menyuarakan pendapatnya, roy suryo berusaha meredam hal ini dengan menyatakan bahwa mereka adalah pahlawan kesiangan. lalu kemudian ketika tokoh pengamat sejarah des alwi angkat bicara, lagi-lagi roy suryo berusaha meredamnya dengan menyatakan bahwa des alwi menyembunyikan dokumen negara dan punya kepentingan ekonomi. dan akhirnya ketika pihak airputih angkat bicara, roy suryo menganggap yang angkat bicara dari airputih adalah tingkatnya sederajat tukang kebun, dan tidak layak dikutip.
kontroversi ini ditutup dengan dua pernyataan dari pihak airputih, bahwa ternyata pengumuman soal penemuan itu seharusnya dilakukan secara bersama antara roy suryo dan airputih, dan catatan tentang kepingan sejarah indonesia dalam bentuk digital, yang sayangnya oleh pihak tertentu hanya dipergunakan sebagai alat untuk mencari popularitas.
LALU, APA USAHA SAYA?
saya sudah menduga kalau akan ada yang berpendapat percuma menulis di blog untuk menyuarakan kebenaran terhadap aksi roy suryo yang menggunakan media masa konvensional yang pengaruhnya masih lebih luas di indonesia ini. seperti eep yang mengibaratkan menulis di blog seperti menggali dengan sendok teh, atau seperti berteriak dari balik bantal, atau seperti riyogarta yang mempertanyakan mengapa tidak ada pakar IT yang melakukan bantahan di media masa juga.
ijinkan saya menjawab. lahan aktualisasi diri roy suryo memang di media masa. beliau rajin mengirimkan sms ke para wartawan, mengumumkan ad hoc konferensi pers atau sepak terjang beliau. tujuan beliau memang mencari popularitas, dan melakukan hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai kepopuleran. ketika beliau pernah bersinggungan dengan saya, dan menyebarkan surat terbuka berisi ancaman ke berbagai milis, saya pun melakukan bantahan ke milis-milis tersebut, dan salah satunya adalah technomedia: komunitas wartawan IT indonesia, yang dimoderatori oleh merry magdalena. dalam deskripsinya, tercantum:
Untuk pengamat TI, harap menyebutkan nama lengkap, tempat (lokasi) dan aktivitas yang sekarang, pekerjaan sekarang (kalau ada), dan lain-lain yang sekiranya menunjukkan anda bisa menjadi narasumber berita.
milis tersebut bersifat tertutup, dan karena roy suryo mengirimkan juga surat terbukanya ke milis itu, agar bisa menyampaikan bantahan saya mencoba bergabung ke milis tersebut. namun permintaan bergabung dari saya ditolak dengan enteng oleh merry, dengan alasan “kami saat ini sudah tidak butuh lagi tambahan narasumber IT“.
berhubung saya memang tidak gila popularitas, saya juga tidak berusaha memaksa masuk ke milis tersebut. toh wartawannya sendiri sudah merasa cukup dengan narasumber yang ada, dan tidak butuh tambahan narasumber lagi. ditambah selalu diumpani dengan SMS dari roy suryo, yang tentu saja makin meringankan pekerjaan mereka mencari berita tentang teknologi.
lagipula, seperti roy suryo yang merasa mapan di tengah wartawan, saya juga merasa sangat mapan dengan menulis blog. saya bisa menyuarakan pendapat saya sendiri tanpa pengaruh orang lain, tanpa tenggat waktu, tanpa paksaan. saya maklum kalau tulisan saya dianggap seperti menggali dengan sendok teh, berteriak dari balik bantal, atau tidak sebesar pengaruh berita/tulisan di media masa, namun saya tetap menganggap tulisan saya di blog bagaikan air menetes ke sebongkah batu, lambat laun akan membuat lubang di batu tersebut. terbukti dari saat pertama saya bersinggungan dengan roy suryo, masih sedikit yang tahu siapa sebenarnya roy suryo itu, sehingga banyak yang berlawanan pendapat dengan saya, namun coba lihat saat ini, sudah sangat jauh lebih banyak yang akhirnya mengerti siapa itu roy suryo. cek saja dari jumlah komentar mencapai 3000-an dan page visit yang juga mencapai 3000-an untuk sebuah blog non-media-masa-dan-independen dan baru berisi 182 artikel.
bukan berarti saya tidak pernah masuk menjadi berita/artikel media masa. saya pernah dijadikan narasumber untuk hobi saya mengumpulkan merchandise startrek dan star wars, dan juga masuk berita ketika memenangi kompetisi airsoft. tapi memang belum ada yang berkategori IT.
tulisan eep dan riyogarta memang ada benarnya. bagi narasumber IT kompeten yang lain, silakan melakukan pelurusan dan bantahan ke media masa, jika memang punya akses ke sana. memorable quote:
Dedhi Says:
August 6th, 2007 at 11:21 pmJelas banget si Roy Suryo ini yang tidak quotoable. Ad hominem banget, pakai pejorative tukang kebun segala. Lebih baik tukang kebun beneran yg bisa potong rumput dengan baik, daripada sesumbar macem macem yg tidak berdasar dan cuman pakai riset padahal mengklaim dirinya dosen. Nama Ketua Air Putih aja kagak tahu padahal katanya kerja bareng dengan mereka, lagu 3 stanza buat orang seumuran gue ama Roy udah dari SD aja pada tahu dia malah kagak, soal kualitas online video feed dari site macam youtube aja dianggap sebagai indikator keaslian, ambil sample darimana aja kagak tahu tapi cuman asal denger lalu sok klaim dari server Belanda, padahal cuman 2nd hand copy doang, doh…………. bener bener mencengangkan untuk kualitas seorang dosen.
Udah gitu komentar komentarnya yang self-appraising, dan kegemarannya bikin ad hoc pers conference dengan kirim kirim SMS ke wartawan…walah, kagak narsis Roy?
TAUTAN
- media whore
- Sejak Kapan Roy Suryo Memimpin Air Putih?
- Apakah “tukang Kebun” Itu Memang Rendahan ? Hingga Gak Layak Didenger …
- Kiat Sukses Menjadi ‘Penemu’ Versi Asli Lagu ‘Indonesia Raya’
- Konsultasi Dr. Monika – Indonesia Raya
- Pakar Pecas Ndahe
- Pahlawan Kesiangan?
- Basbang
- Habis Indonesia Raya, Beralih ke Telor Columbus
- Sensasi Sang Pakar Telematika
- Indonesia Raya, YouTube, Roy Suryo, and the whole Government Shebang
- Roy Suryo – Gebrakan atau Kebodohan?
Leave a Reply to Guru Gila Lagi!!!! Cancel reply