dalam artikel di detik yang membahas kebijakan pemerintah untuk memblokir situs porno, menkominfo menjawab pertanyaan wartawan mengenai hal ini:
“Tolong berikan saya jawaban, bagaimana cara membangun bangsa ini dengan menyuburkan pornografi,” tegasnya. “Kalau tidak ada jawabannya, maka itulah mengapa situs (pornografi) tersebut dilarang karena tujuan kita ingin membangun bangsa” ujarnya.
teknik membalas pertanyaan dengan mengajukan pertanyaan retoris seperti ini sudah sering saya lihat di berbagai acara. tapi, tetap saja ini menghindari pertanyaan aslinya, dan kalau tidak berhati-hati, cenderung menyudutkan diri sendiri. coba kita ungkapkan pertanyaan retoris tadi dengan mengubah sedikit kalimatnya (terima kasih PYAP yang memberikan ide ini):
- “Tolong berikan saya jawaban, bagaimana cara membangun bangsa ini dengan membiarkan painem, paijo, ponirah dan pyap hidup terus,” tegasnya. “Kalau tidak ada jawabannya, maka itulah mengapa halal darahnya karena tujuan kita ingin membangun bangsa” ujarnya.
- “Tolong berikan saya jawaban, bagaimana cara membangun bangsa ini dengan menyuburkan blog,” tegasnya. “Kalau tidak ada jawabannya, maka itulah mengapa blog tersebut dilarang karena tujuan kita ingin membangun bangsa” ujarnya.
- dan seterusnya…
menggunakan pertanyaan retoris memang sudah sepatutnya lebih berhati-hati. apalagi kalau menggunakan kata “pokoknya”, ini sudah merambah ke absolutisme. berikut adalah jawaban beliau ketika ditanyakan bagaimana cara membedakan apakah sebuah situs itu porno atau bukan:
“Caranya gampang. Pokoknya kalau ada situs yang mensyaratkan pengaksesnya berusia 17 atau 18 tahun, maka sudah pasti itu (situs) porno,” tandas Nuh yakin.
inilah salah satu contoh situs yang mempersyaratkan pengunjungnya harus berusia 18 tahun ke atas:

sepertinya pihak sampoerna harus bersiap-siap kena denda 1 miliar seperti yang tertulis dalam UU ITE.
Leave a Reply to Zoe Cancel reply